Arsitek dan Investor di DIY Harus Perhatikan Tata Ruang Keistimewaan

RESPONS, JOGJA – Rancangan bangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Arsitek dan investor di DIY dituntut mengimplementasikan Peraturan Daerah Istimewa (Perdais) No. 2/2017 tentang Tata Ruang Tanah Kasultanan dan Kadipaten.

Demikian mengemuka dalam diskusi terkait perancangan bangunan cagar budaya melalui kanal Youtube Indonesia Construction and Architecture Network, Sabtu (13/3). Kaprodi Magister Arsitektur UII Suparwoko IAI, menjelaskan tata ruang dan bangunan di wilayah DIY diatur secara detail dalam rangka menjaga cagar budaya.

RESPONS JUGA:IAI DIY Buka Sayembara Desain Taman Budaya Sleman Berhadiah 167,5 Juta

Seperti dalam Perdais Tata Ruang Tanah Kasultanan dan Kadipaten Pasal 27 berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang diperbolehkan pada satuan ruang strategis Puro Pakualaman. Dalam ayat ini pemanfaatan ruang pada zona inti untuk kegiatan ekonomi kerakyatan yang mendukung Puro Pakualaman dan kegiatan kebudayaan serta keagamaan.

“Itu harus menjadi perhatian serius bagi arsitek. Arsitektur, investor, desainer harus bisa menterjemahkan maksud ayat tersebut dan menaatinya, ini sangat penting terutama untuk zona inti,” ucapnya.

Menurut Suparwoko terkait aspek kepadatan yang menjadi pertimbangan hanya mengatur kepadatan bangunan pada ranah atap saja dan belum ada kepadatan ruang. Sehingga di kawasan tertentu tidak diketahui seberapa besar kepadatan ruang dan volumenya. Menurutnya perlu ada ayat tentang kepadatan ruang.

RESPONS JUGA:Tol Dibangun, Menguat Usulan Pembangunan Museum Selokan Mataram

Ia menilai informasi kepadatan ruang ini sangat penting sehingga investor bisa tahu bahwa ternyata volume ruang di kawasan blo tertentu masih relatif rendah atau bahkan sudah tinggi. “Jika dilihat memang padat tampak atas tetapi volumenya belum tentu padat,” ucapnya.

Penting Penerbitan Lisensi Arsitek

Ketua IAI DIY Ahmad Syaifuddin Mutaqi menjelaskan pemerintah perlu bersinergi dengan praktisi agar berbagai hal berkaitan dengan potensi pelanggaran tata ruang bisa diminimalisasi. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan sejumlah Langkah seperti mengatur penerbitan lisensi bagi arsitek, mengatur penerbitan persetujuan bangunan gedung, selain itu perlunya sertifikasi kelayakan.

RESPONS JUGA:UII Terus Lahirkan Arsitek Andal

Pemerintah juga perlu mengatur persyaratan arsitektur cagar budaya, arsitektur fungsi khusus dan arsitektur bangunan hijau. Sehingga pelaksanaan tidak terjadi kesalahan persepsi terutama membuat perencanaan pada ruang yang diatur secara rinci. (Age)

Response (1)

Comments are closed.