Bahaya Mager, Sukamta Ajak Anak Muda Gemar Olaharaga

Anggota Komisi I DPR Sukamta PhD dalam Seminar IKP Kominfo RI bertema Eksistensi Olahraga pada Era Digital dan Pandemi Covid 19, Jumat (15/10). Foto : respons istimewa.

RESPONS, JOGJA – Olah raga merupakan kegiatan fisik yang saat ini mudah ditinggalkan orang karena berbagai hal, salah satunya dipengaruhi perkembangan teknologi digital. Era digitalisasi membuat peluang manusia semakin sedikit bergerak.

Demikian mengemuka dalam Seminar IKP Kominfo RI bertema Eksistensi Olahraga pada Era Digital dan Pandemi Covid 19, Jumat (15/10). Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta yang menjadi pembicara dalam kesempatan itu mengakui perkembangan teknologi mempengaruhi perilaku dan budaya masyarakat.

RESPONS JUGA : Sukamta Minta Berantas Pinjol Ilegal dari Hulu

Menurutnya, di era 80-an peneliti sudah membayangkan makhluk alien berkepala besar. Otaknya berkembang badan mengkerut. “Yang terjadi saat ini semakin maju teknologi orang semakin malas gerak. Mager (malas gerak) menjadi kosa kata baru, muncul sekitar tiga-empat tahun ini,” ungkapnya.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada 2016 pernah melansir hasil survei tren global remaja. 1,6 juta pelajar dari 106 negara diketahui 81 persennya tidak melakukan aktivitas fisik setidaknya satu jam sehari. “Bayangkan anak muda dalam satu hari bergerak kurang dari satu jam. Fungsi fisik tidak berkembang maksimal. Dalam survei ini mager rata-rata larinya ke gadget,” kata dia.

Tidak diketahui pasti obesitas itu disebabkan kecanduan gadget atau malas gerak karena gadget. “Seperti telur dengan ayam, yang jelas ada korelasinya dengan gadget, apalagi ngemil sambil main gadget,” ujar Sukamta.

RESPONS JUGA : 3.103 Personil Komcad Ditetapkan, Sukamta : Bukan Untuk Petentang – Petenteng

Ia mengatakan teknologi informasi membuat peluang manusia semakin sedikit bergerak. Pekerjaan cukup dilakukan di depan komputer. “Pikiran yang bekerja,” ucapnya.

Ia bercerita orang tua zaman dulu senang bila anaknya gemuk. Zaman terbalik. Pada era digital sekarang ini justru banyak orang tua tidak ingin ambil risiko karena anaknya kegemukan atau obesitas akibat mager.

“Dulu zaman saya kecil orang tua kalau anaknya kurus dibawa ke dokter. Hari ini ternyata kegemukan menjadi problem,” ungkap Sukamta.

Badan yang mengalami obesitas secara otomatis mempercepat munculnya penyakit degeneratif pada usia relatif muda. Negara-negara seperti Vietnam, Kamboja, India mengalami problem serupa. Di Indonesia obesitas angkanya meningkat dua kali dan dianggap mengkhawatirkan.

Anggota legislatif hobi bersepeda itu mengajak anak-anak muda gemar berolahraga. Perlu diingat, manfaat olahraga tidak untuk memperpanjang usia karena umur seseorang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. “Olahraga adalah bentuk rasa syukur kita menjaga fisik. Semua nikmat Tuhan harus disyukuri,” kata dia.

RESPONS JUGA : Data 2 Juta Pengguna BRI Life Diduga Bocor, Sukamta : RUU PDP Harus Segera Rampung

Doktor Teknik Kimia lulusan Inggris ini mencontohkan, di London hampir semua jalan protokol terdapat jalur sepeda. “Di sini buat jalan sepeda diprotes,” ucapnya.

Pembicara lainnya, direktur Tata Kelola Kemitraan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Hasyim Gautama, menyampaikan pada masa pandemi seperti saat ini menjaga kebugaran tubuh sangat penting, bisa berupa senam ringan, jalan kaki atau olahraga yang sifatnya untuk senang-senang.

“Misalnya, sekalian olahraga maka daripada naik lift, mendingan ewat tangga,” tandas Hasyim. (Ara/Age)