Berebut Suara Pilpres di DIY, Apakah Ada Kejutan?

berebut suara pilpres diy

RESPONS.id- Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu kunci kemenangan dalam perebutan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April mendatang. Baik tim kampanye pasangan calon (paslon) bernomor urut 01, Jokowi Widodo-Ma’ruf Amin maupun paslon bernomor urut 02, Prabowo Subiyanto-Sandiaga Uno, saling klaim kemenangan dari “bumi istimewa” tersebut.

Bukan klaim di atas klaim

Tentu yang diinginkan publik bukan klaim diatas klaim. Jika menelusuri basis data kepemiluan di DIY, basis pendukung Jokowi lebih unggul dengan partai pendukung utama PDIP. Di Pilpres 2014 pasangan Jokowi-Jusuf Kalla unggul dalam rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan KPU DIY dengan memperoleh 55,81 persen suara sah atau memperoleh 1.234.249 suara.

Sementara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa meraih 977.342 suara atau meraih 44,19 persen. Tercatat sebanyak 2.245.164 orang memberikan hak suara dan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya sebanyak 566.980 orang.

Jika diretas kekuatan lima Kabupaten/Kota di DIY tidak ada satupun daerah yang berhasil dimenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Jika dihitung jarak keterpautan perolehan suara maka Kabupaten Kulonprogo memiliki selisih paling dekat. 

Bersumber dari kompas, berikut adalah rincian perolehan suara:

1. Kabupaten Sleman: Jokowi-JK meraih 355.975 suara, Prabowo-Hatta 303.420 suara.

2. Kabupaten Bantul: Jokowi-JK meraih 313.383 suara, Prabowo-Hatta 271.535 suara.

3. Kabupaten Kulon Progo: Jokowi-JK meraih 136.881 suara, Prabowo-Hatta 127.145 suara

4. Kabupaten Gunung Kidul: Jokowi-JK meraih 280.110 suara, Prabowo-Hatta 176.801 suara

5. Kota Yogyakarta: Jokowi-JK meraih 147.900 suara, Prabowo-Hatta 98.441 suara.

Dari data diatas dukungan perolehan suara Jokowi-JK didominasi suara PDIP sebagai mesin utama. Namun itu tidak cukup untuk memenangkan karena dari hitung-hitungan partai koalisi pilpres 2014, total suara PDIP dari dapil DIY sendiri sebanyak mencapai 570.531 suara yang terkonversi dalam dua kursi DPR RI.

Adapun PKB meraih 129.943 (1 kursi DPR), Nasdem 107.432 suara, Hanura mendapatkan 42.782 suara dan PKPI (5.199).

Sementara dari partai kubu Prabowo-Hatta PAN meraih suara 355.787, Gerindra (244.144), Golkar (200.474), PKS (147.875), PPP (94.435) dan PBB (14.172). Empat partai selain PPP dan PBB mendapatkan masing-masinh satu kursi DPR.

Jika ditarik dalam komposisi 55 kursi di gedung DPRD DIY sebanyak 14 kursi PDIP, PKB (5 kursi), Nasdem (3 kursi), rotal 22 kursi. Sementara di kubu Prabowo-Hatta lebih unggul dari sisi partai koalisi yaitu Gerindra PAN (8 kursi), Golkar (8 kursi), Gerindra (7 kursi), PKS (6 kursi), PPP (2 kursi) sehingga total 31 kursi. Khusus Demokrat (2 kursi) absten dari koalisi  saat Pilpres 2014.

Apakah akan ada kejutan?

Keunggulan perolehan suara Jokowi-JK di DIY pada pilpres 2014 tidak semata-mata karena mesin koalisi partai. Sebab jika merujuk kekuatan koalisi maka suara Jokowi-JK lebih rendah dari kekuatan partai koalisi pendukung Prabowo-Hatta. Pandangan umum, bahwa faktor kekuatan figur pasangan capres-cawapres cukup menentukan keterpilihan.

Kefiguran Jokowi yang dikenal merakyat karena sering blusukan menjadi magnet besar ditengah tampilan kebanyakan elit politik yang lebih “formalis”. 

Berangkat dari atas, maka faktor kekuatan figur calon akan menentukan kemenangan, tentu juga di topang kekuatan koalisi partai serta kelompok-kelompok relawan. Adapun kondisi menjelang pilpres 17 April 2019 seakan-akan tertukar, mengingat pasangan Prabowo- Sandi hanya didukung oleh partai koalisi Gerindra, PKS, PAN, Demokrat dan Partai Berkarya. Sedangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf didukung oleh sembilan partai koalisi.

Mengacu hitungan kekuatan partai koalisi sama seperti pilpres 2014, mengingat pilpres 2019 dilakukan secara bersamaan dengan pileg sedangkan pada pilpres 2014 dilaksanakan setelah pileg.

Faktor kekuatan figur capres kembali akan diuji pada pilpres 2019. Pemerintahan Jokowi yang berjalan hampir lima tahun tentu akan mengubah persepsi publik dalam melihat kefiguran Jokowi. Apakah perubahan itu akan ditandai meningkatnya dukungan atau perubahan yang yang ditandai dengan lunturnya tingkat dukungan kepada Jokowi. Ringkasnya, apakah di DIY akan ada kejutan politik yang dimenangkan Prabowo- Sandi ataukah masih dalam dominasi kemenangan koalisi yang dimotori PDIP?

Pengakuan keduabelah kubu

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Amin DIY, Bambang Praswanto merasa yakin kemenangan di DIY tidak akan lepas dari pasangan Jokow-Ma’ruf. Ia mengaku mengikuti perkembangan politik di DIY.

Selain melihat perkembangan di lapangan, ia mendasarkan pada hasil survei dari dua lembaga PolGov UGM dan Charta Politika, pasangan 01 di DIY yang memberikan keunggulan Paslon 01 di atas 60 persen.

Survei PolGov UGM menyebutkan suara Jokowi-Ma’ruf saat ini 62 persen, sedangkan Charta Politika saat ini sudah 70 persen. Untuk amannya range suara 65 persen. “Kita  tetap berusaha meraih kemenangan di atas 70 persen,” katanya.

Sementara itu dari Ketua Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandi, Dharma Setiawan mengklaim tanda-tanda kemenangan di DIY, terlihat. Pertama, saat cawapres Sandiaga berkunjung ke Keraton Kilen Yogyakarta diterima baik oleh Sri Sultan HB X. “Bahkan saat undur diri diantarkan ngarso dalem sampai mobil,” katanya.

Begitu juga saat kunjungan capres Prabowo, diterima Sri Sultan HB X di kantor Gubernur, di Kepatihan. “Sementara saat ada kunjungan dari sebelah justru dilaksanakan secara tertutup. Kalau ini saya menandai bahwa pak Prabowo segera menjadi presiden,” katanya.

Sekretaris DPD Partai Gerindra DIY itu juga mengaku kemenangan Prabowo-Sandi di DIY mendasarkan pada hasil survey internal. “Survey hari ini sudah seimbang secara nasional dan khusus di DIY Ptabowo-Sandi menang selisih sedikit memperoleh 50, sekian persen dan sebelah (Jokowi-Ma’ruf) dapat 49, sekian persen,” ungkapnya.

Menurut Dharma meskipun suvey bersifat internal namun hasil suvey yang dilakukan dapat dipertangjawabkan. “Survey internal itu sebagai acuan kita dalam melangkah, kalau tidak dapat dipertanggungjawabkan buat apa ada survey,” katanya.

Dharma mengungkapkan meskipun saat ini kekuatan partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi lebih kecil dibandingkan partai koalisi Jokowi-Ma’ruf, namun ia mengaku tidak minder. Kekuatan figur Sandiaga yang sudah berulangkali kampanye di Yogyakarta memberikan magnet tersendiri untik mendulang suara kemenangan.

Selain itu ada kekuatan-kekuatan lain yang tak terukur salah satunya perjuangan berbagai kelompok relawan. “Jadi, tetap optimis di DIY ini akan ada kejutan politik berupa kemenangan Prabowo-Sandi,, masyarakat membutuhkan perubahan,” katanya.

Dari paparan diatas menggambarkan kontestasi perebutan suara pilpres di DIY sebetulnua masih cukup alot. Meskipun kedua kubu saling klaim bakal memenangkan di DIY namun pembuktian ada pada tanggal 17 April mendatang. Kita tunggu.****

~Redaksi RESPONS.id

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.