Gagas Ekonomi Lokal, Dorong Fintech Buatan Jogja

RESPONS.id – Jogja, sebagai jujukan wisata dan pendidikan, berimbas positif terhadap perputaran uang yang mampu menggerakkan kegiatan ekonomi. Hanya saja, selama ini, belum secara maksimal dimanfaatkan dalam rangka mendongkrak produk-produk lokal.

Demikian masalah yang diutarakan Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana, saat ditemui di gedung DPRD DIY, Kamis, (24/10). Menurut Huda, terkait kunjungan wisatawan di DIY baik dari domestik maupun manca negara semakin meningkat, setiap tahunnya. Hal yang sama juga terjadi di sektor pendidikan yang menjadikan Yogyakarta sebagai tujuan kuliah dari berbagai daerah di Indonesia.

“Wisatawan, pelajar dan mahasiswa datang ke sini (Jogja) memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal. Putaran uang juga masif, setiap kunjungan wisatawan saja rata-rata melakukan transaksi diatas dua juta, dengan okupansi rata-rata dua hari,” ungkap Huda.

Huda menyatakan masalah ada di dampak ekonomi lokal. Selama ini dampak ekonomi masih didominasi pihak-pihak tertentu yang notabenenya berasal dari luar DIY, bahkan dari luar negeri.

“Seperti untuk batik. Industri batik lokal pun masih mengalami kesulitan bersaing di pasaran karena harganya lebih mahal. Begitu juga dengan produk-produk lokal lainnya, atupun juga pelaku start up,” katanya.

Menurut Huda, dalam pola pembayaran pun saat ini didukung financial technologi (fintech) yang dikendalikan oleh pihak asing. “Nah, berapa banyak putaran uang yang ada disitu, namun apakah itu berimbas siginifikan terhadap produk-produk lokal maupun UMKM,” katanya.

Huda menyatakan penting mengembangkan dan melindungi produk-produk lokal DIY. Politisi PKS itu pun memunculkan gagasan baru melalui konsep transaksi digital yang direplikasi di DIY.

“Bisa masuk obyek wisata, hotel hingga berbelanja produk lokal, bisa menggunakan fintech buatan lokal,” ujarnya.

Menurut dia, ide tersebut cocok diaplikasikan di wilayah DIY. Secara infrastruktur dan sumber daya manusia, DIY sudah siap mengaplikasikan fintech asli buatan lokal. Termasuk keberadaan merchant perbankan di lokasi wisata.

“Karena itu produk yang ditawarkan harus sudah tersertfikasi, jelas kualitasnya,” terang dia.

Menanggapi usulan Huda tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY Rony Primanto Hari, mengakui jika kehadiran fintech akan dapat mendorong perkembangan usaha kecil menengah. Menurutnya, fintech menjadi solusi penyesuaian zaman dalam memanfaatkan teknologi untuk berbagai kegiatan.

“Memang untuk mengejar atau meningkatkan produktivitas dari usaha yang ada di DIY perlu didukung pemanfaatan fintek,” katanya.

Rony juga mengaku dari sisi kesiapan SDM, di DIY memiliki potensi untuk mengembangkan fintech. Sebagai pengingat, di 2017 melalui hasil kajian ekosistem start up digital ditemukan kurang lebih 120 start up digital yang ada di DIY.

“Banyak juga perusahaan aplikasi, start up dan developer, yang memiliki kantor pengembangan di Jogja seperti Gameloft dari Eropa dan Shopee Id,” terang dia.

Termasuk di sektor pendidikan, di DIY saat ini ada lebih dari 100 perguruan tinggi, sekitar 80 persennya menawarkan program studi bidang teknologi informasi. “Menandakan potensi SDM dan kemampuan penggiat teknologi di DIY,” katanya.

Meski demikian masih ada kendala untuk mewujudkan ide tersebut. Menurutnya fintech lokal bisa terealisasi dengan menggandeng start up lokal.

“Yang menjadi kendala masih minimnya akses dana kepada pelaku start up. Memungkinkan untuk terwujudnya fintech namun pemodalan untuk mewujudkan itu, masih terkendala” terangnya.

Ia mengatakan kendala usaha start up itu high risk. Sehingga dimungkinkan banyak investor yang masih ragu. Namun Diskominfo DIY selama ini tetap berkomitmen mendorong perkembangan bidang start up, salah satunya dengan menggelar perlombaan.

“Seringkali para pelaku start up dari Yogyakarta memenangi kompetisi,” katanya.(Ara)

Responses (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published.