IAI DIY dan Disbud Sukses Gelar Sayembara Desain Taman Budaya, Apa Kata Bupati Sleman?

Tampak hadir Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantara dan Ketua IAI DIY Ahmad Syaifuddin Muttaqi IAI, dalam proses penjurian akhir sayembara desain taman budaya Sleman, bertempat di Smart Room Dinas Kominfo Sleman, Rabu (21/4). Foto: Respons

RESPONS, SLEMAN – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY bersama Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman berhasil menggelar kegiatan bertajuk Sayembara Desain Pengelolaan dan Pengembangan Taman Budaya Sleman. Keluar sebagai para pemenang sayembara dengan hadiah total Rp167, 5 juta.

Penjurian akhir dilaksanakan di Smart Room Dinas Kominfo Kabupaten Sleman, Rabu (21/4). Bertindak sebagai dewan juri Ir. Eko Agus Prawoto, M.Arch, IAI, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D.

RESPONS JUGA: IAI DIY Buka Sayembara Desain Taman Budaya Sleman Berhadiah 167,5 Juta

Kemudian ada Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch, HY. Aji Wulantara, SH, M.Hum (Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman), serta Nugroho Wahyu Winarna, SP, M.Sc (Kabid Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan). Proses penjurian tampak istimewa karena dihadiri langsung oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, Kepala Dinas PU Taupiq Wahyudi, serta Ketua IAI DIY Ahmad Saifudin Mutaqi.

Adapun pemenang sayembara arsitektur nasional tersebut sebagai berikut. Untuk juata pertama TBS-088 Ketua : Lucky Fachrurrozi, IAI asal dari Tangerang Selatan, Banten. Diikuti juara kedua TBS-010 Ketua : Jaril Safii, IAI asal dari Tangerang Selatan, Banten.

Juara ketiga : TBS-080 Ketua : Adi Utomo Hatmoko, IAI, AA asal Sleman, DIY. Kemudian juara harapan I : TBS-050 Ketua : Ahmad Setiadi, IAI asal Indramayu, Jawa Barat, dan juara harapan II : TBS-003 Ketua : FX Prasetya Cahyana, IAI asal Sleman, DIY

Untuk hadiah yang diterima rinciannya juara 1 mendapat Rp. 100 juta, Juara 2 Rp. 25 juta, Juara 3 Rp. 22,5 juta, Juara harapan 1 dan 2 masing-masing Rp. 10 juta.

Ketua IAI DIY Ahmad Saifudin Mutaqi IAI, menjelaskan total peserta dalam kompetisi ini ada 128 tim dari seluruh Indonesia. Total karya yang terkumpul sebanyak 62 karya. Dalam masa penjurian, dari 62 karya itu dari seleksi awal mengerucut menjadi 30 besar. Lalu dari 30 karya mengerucut lagi menjadi 7 karya.

“Hingga babak akhir penjurian tersisa 5 karya yang akhirnya menjadi pemenang,” ujar Uud sapaan akrab beliau, di sela-sela acara penjurian.

RESPONS JUGA: UII Terus Lahirkan Arsitek Andal

Dari 5 karya yang tersisa itu lalu tiap tim diminta melengkapi dengan presentasi video dan terpilihlah juara 1,2,3 dan juara harapan 1 dan 2.

“Ada yang menarik dari kompetisi ini khususnya terkait spiritnya. Memang betul di dalam Taman Budaya ini ada gedung tapi kami (juri) tak sekedar memandangnya sebagai sebuah gedung melainkan sebuah lanskap, maka hasilnya secara sepintas dari 5 besar ini terlihat adanya konsen mereka bagaimana ketika desainnya berupaya mempertahankan sawah, sungai di sekitar Taman Budaya ini,” ucapnya.

Sayembara desain ini akan menjadi acuan pembuatan Detil Engineering Design (DED) Taman Budaya yang akan dibangun di Desa Pandowoharjo Kabupaten Sleman. Untuk bangunan fisik Taman Budaya itu ditargetkan mulai dibangun tahun 2022-2023 nanti.

Uud menekankan poin penting sayembara arsitektur nasional desain Taman Budaya Sleman ini ingin mendorong kesadaran bersama bahwa lahirnya suatu fasilitas publik mestinya dilahirkan dari sebuah proses ideal seperti kompetisi desain.

“Kompetisi itu ideal salah satunya bisa dilihat dari jumlah atau antusias peserta yang mengikuti dan proses seleksinya dilakukan juri juri representatif sehingga benar benar melahirkan para juara hebat,” kata Uud.

Kompetisi bertajuk Sayembara Pra Desain Pengelolaan dan Pengembangan Taman Budaya Kabupaten Sleman itu sendiri berlangsung sejak 22 Februari hingga 11 April 2021.

RESPONS JUGA: Ahmad Saifuddin Kembali Pimpin IAI DIY

Apresiasi Bupati Sleman

Sementara itu Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengapresiasi antusiasme peserta yang terlibat dari berbagai penjuru nusantara itu. Ia berharap melalui skema kompetisi ataupun sayembara maka pemanfaatan dan penataan ruang untuk fasilitas publik di Sleman ke depan akan semakin baik.

“Akan mempertahankan identitas yang ada bahwa Sleman sebagai bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang arsitekturnya juga memiliki ciri budaya Jawa yang kental,” kata Kepala Daerah yang baru dilantik pada 26 Februari 2021, itu.

Secara umum, konsep desain bangunan harus mencerminkan pada filosofi spiritual Jawa yang dianut Yogyakarta yakni memayu hayuning bawana manunggaling kawula gusti, dan sangkan-paraning dumadi. Sedangkan secara khusus desain harus memenuhi 19 kebutuhan ruang yang wajib ditampilkan.

Antara lain, memiliki Joglo Pendopo dengan kapasitas 500 orang, gedung pertunjukan serbaguna, amphitheatre (panggung terbuka) kapasitas 500 orang, kantor pengelola, perpustakaan / area edukasi, ruang pameran terbuka, food court kapasitas 17 lapak, mushola kapasitas 100 orang juga lavatory terpadu. (Ara)