Kumpulkan Pasir, Sukiman Harus Menerjang Arus

sukirman penambang pasir jembatan bambu
Sukiman (60 th) saat menambang pasir secara di bawah kolong Jembatan Jambu, kawasan Kali Code, Tegalpanggung RT 55, RW 13, Suryatmajan, Danurejan, Kota Jogja, Kamis (28/3).

DI SUDUT KERAMAIAN Kota Jogja ternyata masih memberikan pemandangan adanya kesenjangan kehidupan warga yang cukup mencolok. Tak jauh dari bangunan hotel yang menjulang tinggi dan masih berada di kawasan pusat Kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY. Tepatnya, di kawasan Kali Code yang membelah Kota Jogja, di bawah kolong jembatan jambu, Tegalpanggung RT 55, RW 13, Suryatmajan, Danurejan.

Seorang pria bernama Sukiman (60 th) tampak menjalani kehidupannya dengan cara menambang pasir secara manual di tengah – tengah derasnya arus Kali Code. Ya, setiap harinya Kali Code menjadi “kantor” tempat ia bekerja. Dari sanalah bapak yang rambutnya sudah banyak uban tersebut berjuang memenuhi kewajiban memberikan nafkah bagi keluarga.

“Dalam sehari mendapatkan pasir sekitar 10 – 15 karung, biasanya sejak pagi hingga jam 13.00,” terang Sukiman saat ditemui RESPONS.id di lokasi ia bekerja, Kamis (28/3).

pasir siap jual
Kumpulan karung pasir yang siap jual.

Untuk mengumpulkan pasir tidaklah mudah. Sukiman harus berjalan menengah, menerjang arus air dengan kedalaman air setinggi perut hingga dadanya. Pun alat yang digunakan sangat sederhana berupa kreyeng. Badannya setengah menyelam sambil menggali pasir yang berada di dasar kali.

Kemudian hasil seropan pasir di kreyeng yang ia dapatkan dibawa ke tepian dan dikumpulkan dengan cara dilemparkan diatas pilar bronjong tepi kali. Begitu dilakukan secara berulang – ulang.

“Posisi pasir ada tengah, jadi memang harus ke tengah. Kalau dapat batu, ya diambil, ditaruh di tepi. Sebenarnya di pinggir juga ada tapi tidak boleh diambil karena untuk menjaga agar tidak longsor,” ucapnya

Bapak yang memiliki seorang istri, satu anak dan satu cucu tersebut mengaku mengalami kendala jika banjir datang. Ia harus mengurungkan kerjanya. Pun, saat musim kemarau tiba, ia berhenti bekerja sebagai penambang pasir lantaran menipisnya stok pasir di dasar. “Ya nganggur, gak bekerja,” sambungnya.

Sukiman mengaku hasil pasir yang ia kumpulkan kemudian dijual setelah dilakukan penyaringan. Satu karung dihargai senilai Rp8 ribu. Sehingga jika dalam sehari ia mendapatkan 10 karung maka uang yang diterimanya senilai Rp80 ribu.

“Satu karung Rp8 ribu. Kayak gini gak bisa lama – lama karena kalau kesuwen (terlalu lama) badan juga kademen (kedinginan),” ungkapnya.

Tak jauh dari Sukiman, juga ada seorang penambang pasir dari warga setempat bernama Yono. Tak beda jauh dengan Sukiman, pasir yang berhasil dikumpulkan Yono dalam sehari sekitar 10 – 15 karung.

Saat ditanya, ada warga lain lagi gak, yang menambang pasir secara manual, selain yang ada di sini? “Tidak ada, setahuku cuma saya dan mas Yono,” pungkas Sukman

Sukiman dan Yono saat menambang pasir secara manual
Sukiman dan Yono saat menambang pasir secara manual

Sisi kehidupan diatas memberikan pemandangan adanya kesenjangan sosial – ekonomi yang mencolok ditengah tengah keramaian Kota Jogja. Kendati demikian, Sukiman tak punya banyak pengharapan ataupun tuntutan kepada pemerintah. Bahkan sebagai bentuk kepeduliannya, ia meminta agar pemerintah memperkuat pagar bronjong bebatuan yang ada di tepian Kali Code. “Biar tidak mudah longsor,” katanya. (Ara)

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.