Lama Tak Muncul, Hanafi Rais “Comeback”

Ahmad Hanafi Rais bersama Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Jogja, Akhid Widi Rahmanto saat menghadiri acara konsolidasi dan syawalan Partai Ummat Kota Jogja, di Aula DPW Partai Ummat DIY, Jalan Ngeksigondo, Kotagede, Kota Jogja, Kamis (10/6). Foto : Respons istimewa

RESPONS, JOGJA – Politisi muda yang lama berkiprah di PAN, Ahmad Hanafi Rais kembali terlihat di panggung politik. Kali ini kemunculan putra sulung Amien Rais itu tidak lagi bersama PAN, tapi dalam rangka konsolidasi Partai Ummat.

Sejak setahun terakhir, nama Hanafi Rais seolah hilang dalam pergulatan jagad politik. Keputusan mengundurkan diri dari PAN dan anggota DPR RI, tertanggal 5 Mei 2020, menjadi sikap politik terakhirnya bersama PAN. Setelah itu, mantan Ketua Fraksi PAN DPR RI itu lebih banyak istirahat dari urusan politik.

RESPONS JUGA : Zulhas : Ahlan Wasahlan Partai Ummat

Selang beberapa bulan, nama Hanafi Rais sempat kembali mencuat, saat musibah kecelakaan menghampirinya, di Tol Cipali, Subang, Jawa Barat pada 18 Oktober 2020. Pun, politisi yang pernah duduk sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI itu mengalami luka berat dan hari-hari panjang untuk proses pemulihan kesehatan.

Seiring waktu berjalan, Amien Rais mempelopori pendirian Partai Ummat, yang secara resmi dideklarasikan pada 29 April 2021. Sosok Hanafi Rais juga tidak muncul dalam deklarasi yang disiarkan melalui akun youtube Amien Rais Official.

Meskipun tak muncul dalam deklarasi Partai Ummat, namun rupanya bentuk maupun platform Partai Ummat juga tak lepas dari masukan buah pemikiran Hanafi Rais. Hal itu disampaikan Hanafi Rais sendiri, saat ia diketahui “comeback”, muncul kembali di panggung politik, tepatnya dalam acara konsolidasi dan syawalan DPD Partai Ummat Kota Jogja, bertempat di Aula DPW Partai Ummat DIY, Jalan Ngeksigondo, Kotagede, Jogja, Kamis (10/6).

Partai Berasaskan Islam

Dalam kesempatan itu Hanafi Rais menyampaikan tausiyah politik, yang menceritakan awal pendirian Partai Ummat. Ia memberikan masukan jika ingin mendirikan partai baru, maka sudah semestinya berasaskan Islam dan menjadi partai ideologis. Masukannya tersebut menjadi salahsatu hasil perenungan perjalanan politik yang telah dilalui selama ini.

“(Pendirian partai) yang berjuang menegakkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang mengharap Allah SWT semata-mata,” terang Hanafi, saat menyampaikan tausiyah bertema refleksi “Gerakan Politik Amar Na’ruf Nahi Munkar”.

RESPONS JUGA : Partai Ummat Berdiri, Apa Respons Muhammadiyah DIY?

Hanafi juga menyampaikan pandangannya tentang kondisi negara saat ini, harapan dan cita-cita yang ingin dicapai dengan kelahiran Partai Ummat. Menurutnya, didasari keprihatinan tentang kondisi bangsa yang dirasakannya semakin jauh dari cita-cita reformasi yang dipelopori ayahandanya, Hanafi Rais mengambil keputusan berani untuk mengevaluasi diri dan mengambil jalan meninggalkan Senayan sebagai anggota DPR RI.

Pertemuan bertajuk konsolidasi dan syawalan tersebut dihadiri Pimpinan Partai Ummat baik DPD maupun DPC se-kota Jogja. Dengan protokol kesehatan covid19, acara berjalan lancar, dimulai dengan pembacaan kalam Ilahi dan dilanjutkan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesa raya dan mars Partai Ummat.

RESPONS JUGA : PKS DIY Anggap Partai Ummat Untuk Fastabiqul Khoirot

Kehadiran Hanafi Rais didampingi Ketua DPD Partai Ummat Kota Jogja Muchammad Agung R, Ketua DPW Partai Ummat DIY Dwi Kiswantoro serta Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Jogja Akhid Widi Rahmanto.

Dalam sambutannya, Agung menyampaikan tentang pentingnya kelahiran Partai Ummat yang sudah semestinya disambut dengan penuh harapan oleh segenap anak bangsa yang menginginkan perbaikan bangsa Indonesia dari keterpurukan di berbagai bidang kehidupan.

Selain itu, Agung juga mengajak segenap jajaran DPD dan DPC Partai Ummat Kota Jogja bersemangat menyambut seruan untuk melawan kedzaliman dan menegakkan keadilan.

RESPONS JUGA : Putra Bupati Sleman Ibaratkan Partai Ummat Masih Mengerami Telur

Sedangkan Dwi Kiswantoro menekankan bahwa Partai Ummat memilih jalan konstitusional dalam menyuarakan kritik kepada penyelenggara negara. “Tentunya agar tidak keluar dari arah dan cita-cita luhur para pendiri bangsa,” katanya. (Ara/Age)

Response (1)

Comments are closed.