Terkejut Jenguk Pak Lasiyo, Wanita Bermasker Ini Tak Kuasa Membendung Air Mata

RESPONS.id – Ujian hidup setiap orang berbeda-beda, namun bagaimana jika ujian berat datang menimpa dan harus dilaluinya. Kiranya itulah yang tengah dialami Pak Lasiyo (45) warga RT 14 RW 03 Dusun Dawung, Kelurahan Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul.

Bagaimana tidak, kondisi fisik bapak dua anak ini lumpuh total dan hanya terbaring di tempat tidur sejak empat tahun ini. Tangan kirinya diamputasi, sebagian tubuhnya tampak bekas lelehan, pun syaraf otaknya tidak berfungsi secara baik. Tatapan matanya kosong dan hanya bisa bicara sekedarnya.

Ujian hidup yang berat diatas harus dialami Pak Lasiyo dan keluarganya. Sebelum jatuh sakit Pak Lasiyo dalam kesehariannya adalah seorang buruh bangunan, dimana peristiwa pahit empat tahun silam telah merubah hidupnya.

Niat diri mencari nafkah untuk keluarga namun cobaan datang menerpa, empat tahun lalu saat ia menjadi buruh bangunan untuk perbaikan instalasi listrik di kota Jogja, tak sengaja tangan Pak Lasiyo memegang kawat listrik bertegangan tinggi, ia tersengat cukup lama, bahkan cukup lama kabel tegangan tinggi menempel di tangannya, sampai lengannya menjadi lengket, segera buruh bangunan lainnya menolong dan melarikannya ke Rumah Sakit terdekat. “Itu terjadi tahun 2016 lalu saat bekerja,” terang Ny Sukati, Istri Pak Lasiyo, seraya tampak menahan sedih saat dimintai keterangan di rumahnya, Senin 13 Juli 2020.

Pada hari itu, Pak Lasiyo dan keluarganya kedatangan seorang wanita dermawan bersama rombongan. Ia mengantarkan beragam perabotan rumah tangga. Semuanya baru. Sebagian masih terbungkus plastik dari toko. Ada satu set meja tamu, kursi dan lain-lain. Juga ranjang tidur gres beserta bantal, guling maupun sprei. Rumahnya yang relatif sempit itu terlihat penuh perabotan. Tak hanya itu segepok uang tunai diberikan kepada keluarga Pak Lasiyo.

Tak lain, sosok dermawan itu adalah Yuni Astuti, wanita bermasker yang belakangan sempat viral lewat aksinya bagi-bagi uang dari atas mobil Hummer. Saat-saat itulah Yuni terkejut melihat kondisi fisik Pak Lasiyo saat menjenguk ke kamarnya. Seketika istri Ketua MPW Pemuda Pancasila DIY Faried Jayen itu meneteskan air mata. Ia tak kuasa melihatnya lebih lama, hingga keluar sebentar untuk menata perasaannya.

BACA : Bertemu Wanita Bermasker di Malioboro, Puluhan Tukang Becak dan Ojol Bergembira

Serukan Indonesia Jangan Menyerah, Wanita Bermasker Ini Bantu Ratusan Honorer RS Rujukan Covid

Di Jogja, Warga Berhamburan Berebut Sebaran Uang

Ketua Badan Pengusaha Pemuda Pancasila (BPPP) DIY itu menyampaikan pesan agar istri dan anak-anaknya tetap sabar dan tawakal menerima cobaan dari Allah SWT. “Semangat ya. Lebih sabar ya merawat Bapak. Pahalanya kan juga untuk njenengan. InsyaAllah,” ucap Yuni.

Berulangkali Ny Sukati menyampaikan terimakasih atas bantuan yang diberikan kepada keluarganya. Menurutnya Pak Lasiyo saat ini masih rutin menjalani kontrol kesehatan. Selain kontrol rutin ke RS Panti Rapih maupun RS Bhayangkara, setiap dua hari sekali ada perawat datang di rumah. Suaminya kadang-kadang masih merasakan pusing. Kakinya ngilu. “Iya, cuma di tempat tidur. Bisa duduk tapi nggak kuat lama,” ujarnya.

Bersama dua putranya, Ny Sukati dengan sabar merawat suaminya di rumah yang terletak di lereng bukit. “Ini bukan rumah saya. Punya kakak. Numpang. Rumah saya di bawah sana sudah nggak ada lagi. Cuma lantainya,” ungkapnya.

Tunawisma

Ya, dalam kondisi fisik yang serba terbatas itu, ia juga masih mengalami kesulitan ekonomi. Keluarganya tunawisma, dan hanya tinggal di rumah saudaranya, itupun rumah yang sebenarnya tergolong Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Bangunan tembok rumah masih batokanan saja, usuk dari bambu sebagai atap rumah banyak yang sudah gapuk dan bergelombang. Tidak ada meja kursi di ruang tamu, sebagian ruang hanya ditutup menggunakan korden untuk kamar tidur dan menumpuk baju.

Menengok ke bagian belakang, sarana tempa mandi cuci kalkus (mck) juga jauh dari kayak. Termasuk pula kamar tidur yang ditempati Pak Lasiyo yang terbuat dari papan kayu dan dibagian atap kamar dipasangi lembaran kain untuk menahan kotoran yang jatuh dari atas.

Rumah Pak Lasiyo yang terletak di lereng telah ambruk dan tinggal terisasi puing-puing karena terjadi pergeseran tanah akibat tanah longsor. Jika saja kondisinya memungkinkan, Yuni Astuti tidak keberatan mengajak pihak-pihak lain untuk membangun kembali rumah Pak Lasiyo.

“Syukur kalau punya rezeki saya beli materialnya, nanti teman-teman (Pemuda Pancasila) yang membangun. Hanya saja kalau bisa dibangun di lahan yang lebih strategis karena sebenarnya dibutuhkan bantuan untuk membuka usaha keluarganya,” terang Yuni. Yuni juga kembali menegaskan, aksi sosial kali ini murni kegiatan kemanusiaan. Sama sekali tidak bermuatan politis.

Adapun Faried Jayen menegaskan, para Pemuda Pancasila harus punya hati namun tidak boleh gembeng (cengeng). Mereka juga harus bersedia membantu masyarakat berdasarkan kemampuan masing-masing.

“Semampunya kita bantu masyarakat karena kita ada di masyarakat. Gedangsari ini hanya salah satu contoh bentuk kepedulian Pemuda Pancasila kepada sesama,” kata Jayen.

Kedatangan Yuni Astuti didampingi suami dan putranya serta para Pemuda Pancasila. Pasukan berseragam loreng oranye hitam turut masuk rumah menata perabotan. Dengan cekatan, tempat tidur nyaris lapuk ditindih kasur usang berlapis galar itu dikeluarkan dari kamar ukuran 2,5 x 3 meter. Pak Lasiyo terlihat lebih nyaman berbaring di atas ranjang barunya. Rombongan pun kemudian berpamitan untuk kembali pulang. (Ara)