Tiga Pimpinan DPRD DIY Tak Ikut Vaksin

RESPONS, JOGJA – Wakil Ketua I DPRD DIY Huda Tri Yudiana menyatakan dirinya dan Ketua DPRD DIY Nuryadi tidak akan mengikuti penyuntikan vaksin Covid-19 perdana yang dilakukan Pemda besok Kamis (14/1). Huda menyatakan vaksin diutamakan untuk kelompok yang diprioritaskan.

“Alasannya karena saya sedang mengalami alergi tertentu. Sedangkan Pak Nuryadi selain usainya yang sudah memenuhi batas maksimal, juga memiliki penyakit penyerta sehingga tidak mungkin divaksin,” kata Huda di DPRD DIY, Rabu (13/1).

Selain itu Wakil Ketua III DPRD DIY Anton Prabu Samandawai juga tidak mengikuti vaksinasi. DPR DIY juga memutuskan untuk pemberian vaksin perdana mengirimkan Wakil Ketua DPRD DIY dari Fraksi PAN Suharwanta.

Saat ini menurut Huda, soal ketidakikutan dirinya dengan Nuryadi tidak usah dipersoalkan. Karena saat ini yang menjadi prioritas pemberian vaksin adalah kelompok-kelompok rentan yang ditentukan oleh pemerintah.

“Kita akan mengikuti aturan pemberian vaksin yang sudah disusun pemerintah. Sekarang prioritas ke Forkopimda dan Nakes. Saya kira sudah ada perencanaanya, kita tidak boleh dumeh anggota dewan njuk minta duluan [divaksin], dewan mengikuti alur, tidak minta diprioritaskan,” tandasnya.

Program vaksinasi ini menurut Huda tidak hanya menyelamatkan diri sendiri namun juga orang lain. Tanpa adanya partisipasi dari masyarakat maka penanganan COVID-19 di Indonesia, termasuk di DIY tidak akan berjalan dengan baik.

Soal tidak adanya sanksi bagi warga yang menolak vaksin di DIY, Huda menyatakan mendukung kebijakan yang dikeluarkan Gubernur ini. Sebab sosiologi masyarakat DIY menurutnya tidak mengenal denda-dendaan, Gubernur ingin mengajak masyarakat memiliki kesadaran dan partisipasi mematuhi kebijakan pemerintah.

RESPONS TERKAIT:

Dewan Dukung Intruksi Gubernur DIY Tentang Kewaspadaan Covid-19

Covid-19 Melonjak, Huda Desak Pembatasan Tempat Umum 

Huda juga melihat Pelaksanaan kebijakan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) selama 11-25 Januari 2021 memiliki dua mata sisi berlawanan. Sisi satunya adalah berkurangnya angka penularan di masyarakat, namun sisi lainnya adalah penurunan perekonomian masyarakat.

“Ini adalah pilihan berat. Adanya pembatasan ini adalah dua pilihan yang sulit, dan kita memilih dari pilihan yang paling buruk. Karenanya dibutuhkan peran semuanya untuk bisa segera keluar dari pandemi,” imbuhnya. (Age)